When You Are At Your Lowest

Mungkin kalian pernah sampai di titik ini. Mungkin juga kalian sedang berada di titik ini. Kalau kalian belum pernah sampai di titik ini, bersyukur, dan persiapkan diri.

Sepanjang hidup, mungkin kita akan ada di fase “jatuh”. Fase ini berbeda-beda pada setiap orang. Penyebabnya juga variatif, tergantung situasi, kondisi, dan takdir juga sih. Basi lah omongan-omongan soal “Ayo kalo jatuh harus bangkit” dan sejenisnya, karena setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda. Mungkin yang berat buat si A, enteng buat si B. Mungkin si C memang sanggup menerima “jatuh” yang lebih dalam daripada si D. Beda.

Saat “jatuh”, kita cenderung lebih senang terjebak di masa itu. Mencari dopingan dopamin dari berbagai sumber; entah itu sosmed, majalah, olahraga, tidur, makan, dsb.  Mencari penundaan untuk menghadapi apa yang seharusnya kita hadapi. Once you feel enough, kita akan sampai pada realisasi: Ini semua harus dihadapi.

Toh kita akan bertahan, dan sadar banyak hal saat menjalaninya.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan sadar kalau kamu punya lebih sedikit teman daripada yang kamu pikir. Teman yang bisa melihat lebih jauh dari status sosial dan keberadaanmu. Teman yang masih ngajakin kesana kesini kalau ada waktu.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan mulai mengukur harga diri dengan standar yang kamu pasang sendiri. Kamu akan mulai mengukur kapasitas dan daya juang dirimu. Kamu tidak lagi terlalu memikirkan ekspektasi orang lain yang cuma akan membebani dan membatasi ruang gerakmu.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan sadar bahwa semuanya tidak pernah terlalu berarti. Kita hidup diantara 7 milyar manusia lainnya, di atas bola batu yang berotasi mengitari bintang kecil, di pinggir galaksi kecil diantara milyaran bintang lainnya. Galaksi ini bersandar di tepi gugus galaksi diantara ratusan ribu galaksi lainnya. Ditengah triliunan struktur alam semesta lain. Really, who do you think you are?

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan mulai menghargai hal-hal kecil. Kamu akan sadar bahwa hidup memang tidak pernah adil. You should work your asses off somewhere.

Dan yaudalah gausah kebanyakan berkata-kata. Silakan sedih selagi masanya. Gausah kelamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *