Pendakian Gunung Lokon

Gunung Lokon, berjarak sekitar 5 km dari Kota Tomohon, Manado. Gunung ini merupakan gunung berapi Stratovolcano dengan ketinggian sekitar 1500an MDPL. Tanggal 8 Maret 2019 lalu, saya berkesempatan untuk mendaki gunung pendek di Sulawesi Utara ini bersama teman saya. Pendakian Gunung Lokon ini kalau boleh saya bilang, merupakan short escape untuk banyak orang dari segala hiruk pikuk kota dan ingin melakukan refreshing singkat.

gunung lokon via wikipedia
Gunung Lokon, 1580 MDPL

Gunung ilalang yang berlokasi tidak jauh dari jalan utama ini menurut saya cukup mudah diakses. Di puncak pun kita masih dapat menemukan sinyal. Karena akses yang cukup mudah, kita akan sering bertemu dengan pendaki lokal maupun dari luar kota. Kalau jalur angkutan kota, terus terang saya tidak terlalu tahu karena saya sendiri datang dari Jakarta waktu itu.

Untuk akses, dari jalan raya Tomohon kamu akan menemukan penanda jalan menuju Gunung Lokon dan bisa bertanya kepada warga sekitar. Kamu bisa membawa motor dan memarkirkannya di titik start pendakian. Jangan lupa dikunci ya! Berikut lokasi Gunung Lokon di google map:

Tidak terlalu jauh bukan?

Sekilas baca-baca dari internet, lama pendakian hanya sekitar 1 jam menyusuri jalur lava dari titik start pendakian, dan 2-3 jam jika ingin muncak. Selama pendakian, tidak banyak pemandangan yang bisa kita temui kecuali hamparan bebatuan dan pasir lembab karena memang jalur tersebut juga dialiri air.

Kami memulai pendakian dengan peralatan ekstra minim, karena kami memang tidak berekspektasi untuk menginap. Start pendakian jam satu siang dan tiba di kawah sulfur sekitar jam 2 siang. Niat untuk memuncak kami urungkan di ketinggian 1540an MDPL (iya, sedikit lagi padahal) karena kami terus diterpa sulfur dan memang ya itu tadi, peralatan kami minim. Kami tidak membawa golok untuk menebas ilalang yang meninggi.

Sumber air? Ada sih air. Tapi bau belerang. Kalau kami sih terus terang ga pingin coba coba minum hehe. Tapi kalau keadaan darurat (which is unlikely) ya mungkin masih possible diminum.

Soal vegetasi, Gunung ini jarang berpohon. Cuma ilalang sepanjang mata memandang dari puncaknya, dan sedikit semak belukar. Dengar-dengar dari warga sekitar yang kebetulan bersama kami saat pendakian, pada letusan terakhir, semua tumbuhan di gunung ini terbakar, dan pemandangan hijau-hijau yang kami lihat merupakan rumput yang baru tumbuh.

Setelah mendaki nonstop menyusuri jalur lava yang membosankan, akhirnya kami melihat tempat terbuka yang ditumbuhi rerumputan sepanjang mata memandang. Naik sedikit lagi, kita bisa lihat asap mengepul dari kawah belerang yang menganga dan puncak yang terasa sudah dekat. Kami mencoba untuk melakukan summit push dengan menginjak ilalang yang tinggi, tapi lama kelamaan gatal juga hehe. Akhirnya kami pergi ke kawah setelah mengambil beberapa foto.

Jalur lava gunung lokon
Padang ilalang. Di tengah terlihat jalur lava yang juga jadi jalur pendakian, dan di sebelah kanan terlihat kota Tomohon. Mungkin bukit doa

Kami menikmati pemandangan yang memukau di kawah sulfur, yang pada saat pendakian sedang dalam status siaga. Foto-foto, istirahat, ngemil, menikmati hawa dingin dan bergegas pulang sekitar jam setengah 5. Keputusan buruk, karena kami tidak membawa senter. Ketika hari mulai gelap, kami sempat tersasar karena lupa jalur dan menyusuri balik jalan yang kami lewati sampai akhirnya bertemu jalan yang familiar, dan melanjutkan perjalanan turun bermodalkan penerangan dari handphone.

Ada tips untuk mendaki Gunung Lokon? Tentu!

  • Bawa air minum dan snack secukupnya.
  • Motor bisa diparkir di mulut jalur lava. Jangan lupa kunci ganda.
  • Malu bertanya sesat di jalan

Sepertinya itu saja tulisan saya kali ini soal Pendakian Gunung Lokon. Short escape yang seru!

2 Replies to “Pendakian Gunung Lokon”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *