Kolaborasi VS Eksklusif, Mana Yang Lebih Menguntungkan?

Halo! Selamat mampir di blog apa adanya ini. Saya memang jarang nulis tapi kalau lagi mood ya bisa ngoceh juga kok. Di post kali ini saya akan membahas tentang tren kolaborasi yang tengah marak di era informasi seperti sekarang ini. Apa itu kolaborasi? Kenapa judulnya “kolaborasi vs eksklusif”? Apa pengaruhnya untuk perkembangan ekonomi? Saya akan coba paparkan beberapa hal soal itu.

kolaborasi vs eksklusif
Era informasi, era kolaborasi

Singkat kata, di era sekarang ini jika kita belum memonopoli pasar, maka yang lebih menguntungkan adalah: kolaborasi. Tentu kita harus sesuaikan dengan konsep awal dan visi misi usaha kita sih, apakah lebh baik hadir sebagai produk yang kolaboratif atau produk yang eksklusif. Tapi berbagai hasil riset membu

  1. Apa itu kolaborasi?
    Berdasarkan penjelasan dari web sinergantara.or.id, Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat. Jadi berbagai elemen usaha dan bisnis dapat berinteraksi dan berkontribusi untuk perkembangan usaha dan produknya baik secara langsung dan tidak langsung.

    Berhubung di post ini saya juga bahas soal “eksklusif“, mari kita caritau apa yang dimaksud dengan eksklusif. Berdasarkan penjelasan dari KBBI, secara singkat eksklusif berarti “terpisah dari yang lain”. Dalam konteks post saya ini, yang dimaksud dengan eksklusif adalah menspesialkan suatu produk dan menutup kesempatan dari pihak eksternal diluar perusahaan untuk berkontribusi demi perkembangan produk tersebut.

  2. Kolaborasi VS Eksklusif.
    Belakangan saya lagi sering main game Cities: Skylines, dan mampir ke yutub, ketemu channel yang bahas soal Cities: Skylines vs Sim City 2013. Agak menarik, karena Sim City yang notabene adalah game pertama di genre membangun kota ini ternyata kalah saing dengan Cities: Skylines. Penyebab utamanya adalah: Sim City menjadi terlalu eksklusif.

    Saya bukan reviewer game yang handal, tapi kesempatan berkontribusi di Cities: Skylines menjadikan game ini sangat disukai. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk berkontribusi dan berperan bagi perkembangan game ini, yang menjadikannya lebih seru dan lebih menarik lagi.

    Banyak kekacauan dalam game yang ditambal dan diperbaiki oleh penggunanya, sedangkan Sim City malah mengunggulkan poin poin yang kurang penting dalam penjualannya, serta cenderung mempersulit kontribusi dari pihak lain (player sebagai end user).  Hasilnya adalah, Sim City menjadi kurang diminati oleh penggunanya.

    Banyak perusahaan yang akhirnya mengedepankan kolaborasi dalam proses perkembangan usahanya, terutama di bidang digital. Kalian pasti pernah mampir ke suatu website atau ketika kalian menggunakan aplikasi baru di smartphonemu lalu diminta untuk mendaftar menggunakan akun google atau facebook. Ya, itu adalah bentuk kolaborasi.

    Disini dapat dilihat beberapa keuntungan meluncurkan produk yang memperkenankan penggunanya untuk berkontribusi dengan menghadirkan modifikasi dan tambahan untuk produknya.
    > Menjadikan produk lebih personal
    > Memperluas pasar secara tidak langsung
    > Punya banyak product advisor gratis
    > Intangible asset

    Walaupun minusnya adalah…. Perlunya pengawasan agar produk tetap digunakan sebagaimana mestinya.

  3. Yang dapat diambil pelajaran. 
    Kita hidup di era informasi, semua orang memiliki preferensi yang berbeda sesuai kepribadiannya masing-masing. Hal ini sedang banyak dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan untuk memperluas pasarnya, dengan cara membiarkan konsumennya untuk berekspresi dan berkontribusi bagi produknya.

    Sebagai pemilik produk buku catatan, saya sadar betul bahwa menjadi unik dan eksklusif tidak melulu menarik. Personalisasi menjadi hal yang penting sekarang ini, dan dapat kita temukan bahwa kebanyakan produk populer memperkenankan konsumennya untuk memodifikasi dan mengutak-atik buku catatannya tanpa merubah dan membuang esensi buku catatan tersebut.  Personalisasi hendaknya tidak menghilangkan branding utama produk tersebut.

    Produknya yang memang saat diluncurkan sudah terpersonalisasi, menjadi lebih personal lagi dengan banyak modifikasi yang bisa diterapkan pada produknya seperti stiker, kantong, tempat pulpen, dll. Hibrkraft sendiri sebenarnya meluncurkan produk Trevi! dan Plain-3 (discontinued) sudah cukup lama, dan disinilah kami ingin menerapkan konsep kolaborasi dan personalisasi maksimal. (Colek GNID)

trevi, dalam hal kolaborasi vs eksklusif

Sekaran ini eranya kolaborasi loh. Menggabungkan kekuatan market untuk terus mencipta dan melahirkan karya yang baru, memaksimalkan end user experience.

Dalam konteks usaha, memang kita tidak bisa memaksakan apakah produk kita harus jadi produk kolaborasi sepenuhnya atau hanya jadi produk eksklusif. Kolaborasi vs eksklusif, baiknya disesuaikan dengan tuntutan klien. Agar di satu sisi tidak menimbulkan pelbagai kerugian yang tidak diduga duga.

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Kita harus terus belajar dan mengembangkan diri, menyesuaikan dengan perubahan zaman dan tren yang bisa dibilang hanya bertahan hitungan hari.

Feel free to contribute your opinion! Cheers!

Hal Yang Bisa Kamu Kontrol Untuk Memperbaiki Hidup

Memperbaiki hidup starts from here.

Kamu pernah merasa ada yang salah dalam hidupmu? Mungkin bisa jadi memang ada yang salah dalam hidupmu. Apapun itu. Tiap orang pasti pernah punya foot bendernya sendiri yang menghalanginya untuk menikmati hidup, and worse, untuk maju. Mengurai hal-hal itu merupakan salah satu langkah awal untuk memperbaiki hidup.

Beberapa hal memang tidak bisa kamu kontrol seperti takdir, bencana, dan sebagainya. Tapi ingat, beberapa hal bisa kamu kendalikan. Di post ini saya mau cerita sedikit soal beberapa hal yang bisa kamu kontrol untuk memperbaiki hidup. Ya mudah mudahan sih benar bisa membuat hidupmu lebih baik.

Trust me. I’m on my way doing this juga kok. Recent events kinda devastating for me. Sebenernya devastating ini bagus sih. Karena kamu bisa memahami banyak hal when you are at your lowest. Langsung aja deh, gausah pake curhat.

Berdasarkan pengamatan saya, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kamu kontrol. Jadi omong kosong lah soal kamu harus begini karena kalo ga nanti begitu soal hal hal ini.  Hal-hal ini antara lain: Continue reading “Hal Yang Bisa Kamu Kontrol Untuk Memperbaiki Hidup”

Cara Cari Uang di Internet: Ngasitau Cara Cari Uang di Internet

Halo! Kali ini gua mau beropini aja sih. Mungkin buat sebagian orang post ini ga terlalu nolong, but whatever. Belakangan gua ngeliat orang yang cari uang di internet dengan menjual cara-cara cari uang di internet. Nah. Gua mau cerita sedikit sama berpendapat tentang apa yang namanya “Cari Uang di Internet“.

Perjalanan gua cari uang di Internet rupanya udah cukup lama, sejak 2005. Waktu itu gua coba buat web di tripod.com (masih ada ternyata sampai sekarang). Nah kalau kita buat web gratisan, kita bakal dijejali sama iklan-iklan yang bakal mendominasi 30% dari blog kita. Dapet persenan? Belum tentu. alamat web gua saat itu anwar.tripod.com (udah didelete pastinya karena inactivity) meski nama webnya hibrcorp.

Gua bisa nyasar di tripod.com semata mata karena keywoard “free hosting and domain” waktu lagi googling di Starnet, warnet satu-satunya di Bojonggede saat itu. Karena internet masih belum secepat sekarang, buat ngebuka tripodnya aja setengah jam sendiri. Gua buat webnya fully html based, desain saat itu masih susah banget dan html masih gabisa diandalkan. Setelah berminggu-minggu ngutak ngatik kode pake metode try and error, akhirnya web itu selesai tahun 2006. Sigh.

Screenshot hibrcorp, my first website
Hibrcorp, my very first website. Skrinsut dari file asli yang masih tersimpan sampai sekarang. Kinda proud, eh

Photoshop? Cuma tau drag drop kasi teks terus kasi layer effect. HTML? Cuma berbekal coba-coba. ASP PHP dll? Mana ngerti. JS? Gapaham. Tapi web ini cukup jadi senjata buat gua untuk mulai berdagang jasa. Singkat kata, tiap ketemu orang yang minta dibuatin web, gua kasi liat web sampah itu ke orang orang.

Klien pertama gua tidak lain adalah… Bokap gua sendiri. Gua buat semacam web company profile untuk perusahaan bokap gua. Invoicenya dihitung perpage. Agak sedikit lebih bagus daripada Hibrcorpnya sendiri because…well…. dibayar. Thanks dad.

screenshot comprof pt. ras
Layer? Mana ada dulu. CMS? Apa itu? Ngukur pixel per pixel is such a pain in the a**.

Tahun 2007, blogspot mulai populer. Gua pakai blogspot dan nyoba cari cara lain buat cari duit. Ternyata ada yang namanya adsense. Dulu buat daftar adsense ga sesusah sekarang. Kita cukup sign up lalu kita udah bisa mulai ngeduitin blog kita. Dan…. Gua nemu cara jahat buat itu. Yaitu dengan ngeklik sendiri iklan kita di warnet (haha).

Lumayan, gua dapet nominal yang agak gede. Tapi, ga sampai sebulan akun gua ternyata diblacklist, dan sampai sekarang rupanya akun gua diblacklist. Makanya blog gua yang di blogspot gapernah bisa diduitin. Oke fine hahaha.

Semua hal itu mengantarkan gua buat direkomendasikan untuk ikut olimpiade komputer, dan gua adalah satu dari beberapa orang yang terpilih untuk mewakili kota Bogor di olimpiade komputer. Sejak itu gua dikenal sebagai orang yang “jago komputer”, padahal mah….. Hahahaha.

Kalau ga salah di awal 2008, gua dapet klien dari anak anak sekolah sebuah SMA favorit di Bogor. Iya, mereka seumuran gua. 3 orang. Dan gua dibayar agak lumayan buat beli pulsa 2000 sms saat itu. Berulang di tahun depannya, tahun 2009 gua dapet klien dari sekolah yang sama, dan kali ini gua dibayar agak sangat lumayan buat gua saat itu. Cukup buat bayar spp 2 bulan dan nonton di bioskop 20 kali. Lumayan kan? Begonya ga gua pake nabung sih.

Per 2010, gua udah buat belasan web, bertarif pelajar. Ya sekedar buat beli pulsa aja lah. Lalu ada yang mau buat web serius gitulah. Pengusaha tas. Gua yang waktu itu belum ngerti soal alur project bodohnya nganggurin kesempatan itu aja, yang kalo dipikir gua bisa dapet nominal jutaan (saat itu web profesional tarifnya masih jutaan) dengan kerja dan belajar 2 bulanan. Hal yang sama terjadi juga sama pengusaha papan iklan di jogja yang bela-belain dateng ke bogor. Bego banget lu war.

Semua perjalanan itu terhenti karena studi, kerja, dsb. Blah blah blah, saat ini cara gua cari uang di internet ya dengan jualan Hibrkraft dan jualan jasa di beberapa web perdagangan jasa. Gua sempet juga jadi penganalis iklan fesbuk dan penerjemah. Ya bisa dibilang freelancing gitulah. Duitnya lumayan kok, dan jam kerjanya juga ga kaya jam kerja kantoran.  Kalo mau dibahas mending kita bahas di post lain aja ya.

Jadi, gua mau bilang, cari uang di Internet itu butuh dedikasi dan waktu. Lu gabisa mendedikasikan waktu lu seminggu dua minggu lalu kemudian tiba tiba lu dapet duit banyak. Gabisa, semua ada proses. Dan sampai sekarang juga gua masih menjalani proses itu.

Ada banyak orang yang nyari duit di internet dengan cara ngasitau cara cari uang di internet. Agak lucu sih, karena gua yakin dia sendiri belum tentu prolific di bidang-bidang yang dia kasitau itu. Dia cuma jualan e-book dan ngarep banyak visitor ke blog/webnya. Dan berhasil. Karena banyak dari kita memang rada putus asa soal cari uang dan melihat internet adalah peluang untuk cari uang.

Itu sama aja jadi jualan motivasi usaha, padahal tidak punya usaha sendiri yang mumpuni. Jalan dari kampus ke kampus ngasih motivasi usaha, dan ironisnya malah mencetak pengangguran-pengangguran baru.

Cari uang di internet? Semua bisa. Internet tempat yang luas, tapi juga terlalu luas. Semua orang udah jualan di internet. Semua udah ada di Internet. Lalu bagaimana caranya biar bisa jadi pionir disitu?

Ga gampang. Butuh waktu. Butuh dedikasi. Namanya cari uang, ga segampang apa yang dibicarakan di cara-cara mencari uang di internet. Dia juga susah pasti. Mungkin benar, cara paling mudah cari uang di internet adalah dengan bikin artikel dan ebook ngasitau orang cara cari uang di internet :P.

Semoga bermanfaat 🙂

When You Are At Your Lowest

Mungkin kalian pernah sampai di titik ini. Mungkin juga kalian sedang berada di titik ini. Kalau kalian belum pernah sampai di titik ini, bersyukur, dan persiapkan diri.

Sepanjang hidup, mungkin kita akan ada di fase “jatuh”. Fase ini berbeda-beda pada setiap orang. Penyebabnya juga variatif, tergantung situasi, kondisi, dan takdir juga sih. Basi lah omongan-omongan soal “Ayo kalo jatuh harus bangkit” dan sejenisnya, karena setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda. Mungkin yang berat buat si A, enteng buat si B. Mungkin si C memang sanggup menerima “jatuh” yang lebih dalam daripada si D. Beda.

Saat “jatuh”, kita cenderung lebih senang terjebak di masa itu. Mencari dopingan dopamin dari berbagai sumber; entah itu sosmed, majalah, olahraga, tidur, makan, dsb.  Mencari penundaan untuk menghadapi apa yang seharusnya kita hadapi. Once you feel enough, kita akan sampai pada realisasi: Ini semua harus dihadapi.

Toh kita akan bertahan, dan sadar banyak hal saat menjalaninya.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan sadar kalau kamu punya lebih sedikit teman daripada yang kamu pikir. Teman yang bisa melihat lebih jauh dari status sosial dan keberadaanmu. Teman yang masih ngajakin kesana kesini kalau ada waktu.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan mulai mengukur harga diri dengan standar yang kamu pasang sendiri. Kamu akan mulai mengukur kapasitas dan daya juang dirimu. Kamu tidak lagi terlalu memikirkan ekspektasi orang lain yang cuma akan membebani dan membatasi ruang gerakmu.

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan sadar bahwa semuanya tidak pernah terlalu berarti. Kita hidup diantara 7 milyar manusia lainnya, di atas bola batu yang berotasi mengitari bintang kecil, di pinggir galaksi kecil diantara milyaran bintang lainnya. Galaksi ini bersandar di tepi gugus galaksi diantara ratusan ribu galaksi lainnya. Ditengah triliunan struktur alam semesta lain. Really, who do you think you are?

Saat kamu sedang “jatuh”, kamu akan mulai menghargai hal-hal kecil. Kamu akan sadar bahwa hidup memang tidak pernah adil. You should work your asses off somewhere.

Dan yaudalah gausah kebanyakan berkata-kata. Silakan sedih selagi masanya. Gausah kelamaan.