Bangga Jadi Kuli
· 4 min read
Ada yang suka bilang ke aku: "Sayang ya, padahal kamu pinter, tapi kok masih ngurusin pompa segala."
Aku senyum aja. Tapi dalam hati, aku mikir: kamu ga tau apa-apa.
Yang Dimaksud "Kuli" di Sini
Aku bukan kuli dalam artian unskilled labor. Aku tau perbedaannya.
Yang aku maksud kuli di sini adalah orang yang kerjaannya di lapangan, bukan di atas kertas. Yang tangannya pernah kotor karena buka pompa yang udah puluhan tahun ga dibuka. Yang punya pengalaman langsung dengan apa yang terjadi ketika sistem salah didesain, bukan cuma baca studi kasusnya di textbook.
Di industri, ada dua jenis orang. Yang pertama: orang yang ngerti sistem dari pengalaman langsung, baik buruknya, quirk-nya, hal-hal yang ga ada di manual tapi semua orang yang kerja di lapangan udah tau. Yang kedua: orang yang ngerti sistem dari dokumen, spesifikasi, dan presentasi deck yang dibuat oleh orang pertama tadi.
Yang kedua sering dibayar lebih. Dan sering dianggap lebih prestisius.
Ini yang aku ga setuju.
Keahlian Tacit Itu Mahal, Tapi Ga Kelihatan
Ada konsep yang namanya tacit knowledge, pengetahuan yang susah diartikulasikan tapi sangat nyata. Ini bukan mysticism. Ini empiris.
Ketika aku bisa dengar suara pompa dan langsung tau ada masalah di bearing-nya, itu bukan intuisi magis. Itu akumulasi dari ratusan kali mendengar pompa yang sehat dan pompa yang bermasalah, dibandingkan secara langsung, dalam kondisi nyata. Tidak ada textbook yang bisa mengajarkan itu secara efisien. Perlu waktu.
Ketika aku bisa lihat instalasi dan langsung tau di mana potential failure point-nya, itu bukan bakat. Itu adalah pola yang aku pelajari dari melihat sistem yang gagal dan sistem yang bertahan, berulang kali, dalam konteks nyata.
Ini yang aku maksud dengan keahlian blue-collar yang undervalued: bukan soal otot atau kesediaan kerja keras. Tapi soal akumulasi pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dari kontak langsung dengan sistem fisik yang nyata, dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Tidak bisa dibeli. Tidak bisa dipercepat dengan sertifikasi. Dan yang paling frustrating: susah dikomunikasikan ke orang yang ga pernah turun lapangan.
Kenapa Aku Lama Ga Bangga
Jujur: aku dulu ga bangga juga.
Bukan karena aku malu dengan kerjaan. Tapi karena lingkungan sekitar cukup konsisten memberi signal bahwa kerja lapangan itu adalah stepping stone, bukan destination. Kamu kerja lapangan dulu untuk belajar, kemudian kamu naik ke posisi manajerial atau konsultan di mana kamu ga perlu capek lagi.
Aku ikutin pattern itu. Naik ke posisi yang lebih "respectable." Bikin proposal dari kantoran. Bicara di meeting tanpa nyentuh pompa.
Dan aku ngerasa ada yang hilang.
Bukan nostalgia. Tapi produktivitas. Ketika aku ga ada kontak langsung dengan problem fisik, analisisku jadi lebih abstract. Lebih banyak asumsi. Lebih sedikit ground truth.
Balik ke lapangan, bahkan parsial, adalah keputusan yang aku buat sadar. Bukan karena romantisasi. Tapi karena aku tau keahlian yang aku miliki butuh dipelihara dengan exposure yang berkelanjutan.
Yang Bikin Invisible: Ga Nulis
Ini adalah bagian yang lebih menyakitkan untuk diakui.
Praktisi lapangan yang punya keahlian solid sering tetap invisible bukan karena keahliannya ga valuable. Tapi karena mereka tidak mendokumentasikan kerjanya.
Alasannya aku paham, karena aku juga pernah di sana. Nulis terasa kayak kerja tambahan yang ga ada payoff-nya. Yang penting kerjaan selesai, klien happy, bayaran masuk. Ngapain nulis-nulis juga?
Tapi ini yang terjadi ketika kamu ga nulis:
Keahlian kamu tetap ada di kepala kamu. Tidak transferable, tidak verifiable, dan tidak scalable. Ketika kamu kompetisi dengan orang yang track record-nya lebih pendek tapi lebih terdokumentasi, yang menang adalah yang bisa diverifikasi, bukan yang lebih kompeten.
Dan ini yang bikin aku agak righteous indignant tentang situasi ini: bukan hanya kerugian individual. Tapi kerugian sistemik. Pengetahuan lapangan yang paling valuable sering mati bersama orangnya, karena tidak pernah dituliskan.
Dokumentasi Sebagai Tindakan Politis
Aku serius dengan ini.
Ketika praktisi lapangan mendokumentasikan kerjanya dengan standar yang sama dengan yang dilakukan oleh konsultan white-collar, ada redistribusi otoritas yang terjadi. Tiba-tiba pengetahuan yang selama ini dianggap "terlalu teknis" atau "terlalu spesifik" untuk dikomunikasikan ke audience yang lebih luas, punya tempat dan format.
Witanabe punya 60+ documented projects sekarang. Bukan semua detail, karena beberapa memang harus dijaga. Tapi cukup untuk menunjukkan pola, metodologi, dan track record.
Itu bukan marketing exercise. Itu tindakan yang bilang: kerja ini real, keahlian ini real, dan aku punya hak untuk dikutip sebagai sumber.
Takeaway yang Praktis
Kalau kamu praktisi lapangan yang baca ini dan merasa relatable, ini yang konkrit:
Mulai dengan yang kecil. Satu paragraf per project. Apa masalahnya, apa yang kamu lakukan, apa hasilnya. Tidak perlu eloquent. Tidak perlu untuk dipublikasi. Tapi tulis.
Setelah kamu punya material mentah, baru pilih mana yang layak dipublikasi. Mana yang bisa jadi case study. Mana yang cukup sebagai project log internal.
Keahlian kamu nyata. Tapi di dunia yang makin banyak difilter lewat teks dan verifiable evidence, keahlian yang tidak terdokumentasi adalah keahlian yang tidak ada.
Bangga jadi kuli itu bagus. Tapi kuli yang nulis kerjanya, itu yang bisa compound.
Yasudahlah, mulai nulis.