Dua Minggu Makan Nasi Peyek
· 3 min read
Ada periode sekitar dua minggu di mana menu makanku setiap hari adalah nasi dan peyek.
Bukan karena aku lagi diet. Bukan karena aku suka peyek lebih dari makanan lain. Tapi karena sisa uang di rekening setelah bayar gaji karyawan cuma cukup untuk beli beras dan kerupuk peyek yang murah.
Aku mau ceritain ini bukan supaya kamu salut. Aku ceritain ini karena aku rasa terlalu banyak orang yang ga tau bahwa ini bagian normal dari membangun sesuatu, dan ketidaktahuannya itu bikin mereka kaget dan menyerah terlalu cepat.
Kronologinya
Ini bukan di awal banget Witanabe. Ini di tengah, waktu bisnis udah cukup jalan tapi belum cukup stabil. Ada beberapa klien tapi pembayarannya molor. Ada proyek berjalan tapi belum invoice. Arus kas gap, istilah kerennya.
Gaji karyawan tanggal berapa? Tanggal sekian. Fix.
Uang di rekening? Cukup untuk gaji, tapi mepet banget untuk sisanya.
Pilihannya jelas buat aku. Karyawan dibayar dulu. Ini bukan heroisme. Ini konsekuensi logis dari keputusan untuk rekrut orang. Kalau aku rekrut seseorang, itu berarti aku berjanji bahwa pada tanggal tertentu, mereka dapat uang. Janji itu harus dipegang terlepas dari kondisi rekeningku.
Jadi mereka dibayar. Dan aku makan nasi peyek.
Yang bikin aku ketawa sekarang
Peyek itu ternyata enak kalo udah lapar beneran.
Serius. Ada semacam kejernihan rasa yang muncul kalau kamu makan karena butuh, bukan karena pengin. Nasinya juga ga terasa membosankan kalau kamu cukup lapar.
Aku inget mikir waktu itu: "Oke, setidaknya karbohidratnya cukup."
Optimisme yang sangat spesifik.
Yang ga lucu dari pengalaman itu
Bukan laparnya. Aku bisa handle lapar.
Yang berat adalah ketidakpastian tentang kapan gap-nya nutup. Dua minggu terasa lama waktu kamu ga tau apakah dua minggu lagi situasinya lebih baik atau sama.
Ada momen di tengah dua minggu itu di mana aku hitung ulang semua angka untuk pastikan aku ga salah. Mungkin ada yang kelewat. Mungkin ada tagihan yang bisa ditunda. Mungkin ada cara lain.
Ga ada.
Angkanya benar pertama kali. Nasi peyek sampai invoice cair.
Kenapa aku ga minjam
Pilihan paling logis dari luar mungkin: minjam sementara dari teman atau keluarga.
Aku ga lakuin itu. Bukan karena gengsi. Tapi karena aku udah tau saat itu bahwa bisnis yang bisa survive gap kecil seperti ini dengan cara yang paling kasar, yaitu pemotongan konsumsi pribadi paling ekstrem, itu bisnis yang fundamentalnya lebih kuat.
Meminjam akan menutup gap. Tapi aku juga ga akan belajar bahwa gap itu bisa ditutup tanpa pinjaman.
Pengetahuan bahwa aku bisa survive dua minggu nasi peyek adalah informasi berharga tentang batas bawah kebutuhanku. Informasi itu jadi bagian dari cara aku mengelola keuangan sejak saat itu.
Kamu ga perlu banyak kalau kamu tau berapa yang paling minimum kamu butuhkan.
Apa yang berubah setelah itu
Invoice cair. Aku langsung beli ayam goreng dan makan banyak.
Kemudian aku duduk dan buat sistem untuk monitoring arus kas yang lebih ketat. Bukan karena dua minggu nasi peyek adalah pengalaman yang aku rekomendasikan, tapi karena aku ga mau ngulang situasi yang ga terdeteksi sampai kritikal.
Sekarang Witanabe punya lebih dari 60 proyek terdokumentasi. Arsindo punya penunjukan distributor ALBIN yang prosesnya bertahun-tahun. Hibrkraft jalan dengan cara kerjanya sendiri.
Tapi di antara sekarang dan dua minggu nasi peyek itu, cuma waktu. Bukan perubahan watak yang dramatis. Bukan momen pencerahan besar.
Cuma: bertahan, terus kerja, belajar dari gap-nya, jangan ngulang.
Yang aku mau kamu ambil dari ini
Bukan bahwa kamu harus makan nasi peyek untuk sukses. Itu bukan takeaway yang berguna.
Yang aku mau bilang adalah: ada kemungkinan kamu akan punya periode seperti itu. Periode di mana kamu bayar orang lain dulu dan sisanya buat kamu sendiri ga banyak. Periode di mana gap antara invoice dikirim dan invoice dibayar terasa sangat panjang.
Itu bukan tanda bahwa bisnismu gagal. Itu tanda bahwa kamu lagi dalam fase yang kebanyakan orang ga ceritain di workshop motivasi mereka.
Fase itu bisa dilewati. Aku lewatin dengan peyek.
Kamu mungkin punya pilihan yang sedikit lebih baik dari itu. Semoga.
Tapi kalau ga ada, peyek lumayan kok.