Pekerja yang Ga Pernah Di-mention
· 4 min read
Kemarin gedung kantormu tidak banjir. Pompa di basement bekerja. Air mengalir dari keran. AC dingin. Lift jalan.
Kamu tidak tau siapa yang memastikan semua itu terjadi.
Itu normal. Dan itu masalah.
Siapa yang Di-mention
Coba cek siapa yang dapat coverage di media bisnis Indonesia. Siapa yang diundang jadi speaker di konferensi startup. Siapa yang profilnya muncul di LinkedIn dengan engagement tinggi.
Founder. CEO. Digital strategist. Growth hacker. Content creator.
Semua orang yang kerjaannya di depan layar, berhubungan dengan informasi, atau bisa dibuat kelihatan keren di caption Instagram.
Sekarang tanya: siapa yang memastikan gedung tempat konferensi startup itu bisa dipakai? Siapa yang memastikan sistem HVAC-nya jalan sehingga orang-orang itu ga kepanasan sambil dengar pitch tentang future of work? Siapa yang memastikan bahwa ketika toilet di venue macet, ada yang bisa benerin sebelum networking session berikutnya?
Ga ada yang di-mention. Ga ada yang di-feature. Kerjaannya ga kelihatan keren di foto.
Aku Tau Siapa Mereka
Aku 20 tahun di industri pompa dan sistem fluida. Aku tau siapa yang bekerja di belakang layar infrastruktur.
Operator pompa yang shift-nya 12 jam, sering malam, di lokasi yang jauh dari kota. Yang tugasnya memastikan sistem jalan dan kalau ada anomali, dia yang pertama tau. Bukan dari dashboard fancy, tapi dari suara, dari getaran, dari perubahan kecil yang hanya bisa dideteksi kalau kamu cukup sering berada di dekat mesin itu.
Teknisi maintenance yang tugasnya bukan memperbaiki ketika rusak, tapi memastikan tidak rusak. Preventive maintenance yang invisible karena kalau berhasil, tidak ada yang terjadi. Tidak ada drama. Tidak ada headline. Mesin jalan. Itu saja.
Tukang ledeng yang menangani sistem perpipaan di gedung komersial. Yang tau bahwa tekanan di lantai 15 berbeda dengan lantai 3 dan tau cara menyesuaikannya. Yang kerjanya paling kelihatan hanya ketika ada yang bocor, yaitu ketika dia sudah gagal mencegahnya, atau ketika dia dipanggil untuk memperbaiki kegagalan orang lain.
Building maintenance yang hafal karakter gedung lebih baik dari siapapun. Yang tau bahwa AC di ruang meeting timur mulai bermasalah setelah 3 tahun bukan karena ada notifikasi sistem, tapi karena dia yang pasang unit itu dan dia ingat umurnya.
Invisible by Design
Ini bukan kecelakaan.
Sistem kita secara struktural membuat pekerja infrastruktur invisible. Bukan karena ada konspirasi. Tapi karena cara kita mengukur dan merayakan value sangat bias ke hal-hal yang visible, terdokumentasi, dan bisa di-narasi-kan.
Prestige ekonomi mengikuti visibilitas, bukan impact. Dan infrastruktur yang berfungsi baik, by definition, tidak menghasilkan cerita. Tidak ada drama. Tidak ada before-after yang bisa di-posting.
Drama hanya muncul ketika infrastruktur gagal. Dan ketika itu terjadi, tiba-tiba orang sadar bahwa ada sistem yang selama ini dijaga oleh orang yang namanya bahkan tidak mereka tau.
Ini yang bikin aku lebih dari sekadar sedih. Ini yang bikin aku cukup marah.
Bukan Soal Uang Semata
Aku ga bilang semua pekerja infrastruktur dibayar rendah. Beberapa dibayar cukup baik, terutama di industri yang sadar betapa pentingnya keahlian mereka.
Yang aku bicarakan adalah pengakuan. Narasi. Status sosial.
Kita punya culture yang secara sistematis merendahkan pengetahuan praktis dan memuliakan pengetahuan yang bisa dipresentasikan. Yang bisa dimasukkan ke slide deck. Yang bisa di-abstract-kan jauh dari kenyataan fisiknya.
Padahal pengetahuan tentang bagaimana sistem fisik sesungguhnya bekerja, bukan teorinya tapi actual behavior-nya di lapangan, ini adalah salah satu bentuk pengetahuan yang paling valuable dan paling sulit untuk direplikasi.
Itu yang dibawa setiap hari oleh operator, teknisi, dan maintenance worker yang kita tidak tau namanya.
Yang Bisa Dilakukan
Aku tidak punya solusi sistemik yang besar. Ga mau pura-pura.
Tapi ada yang praktis:
Kalau kamu bekerja di organisasi yang punya maintenance staff: tau namanya. Bukan sekadar ada di database. Tahu namanya. Tanya sekali-sekali apa yang mereka kerjakan minggu ini.
Kalau kamu punya akses untuk mendokumentasikan kerja teknis: lakukan. Wawancara teknisi senior yang mau pensiun. Tulis tacit knowledge mereka sebelum hilang bersama mereka. Ini bukan sentimentalitas. Ini adalah tindakan preservasi pengetahuan yang bernilai tinggi.
Kalau kamu membangun sistem informasi apapun tentang industri atau infrastruktur: sertakan perspektif dari orang yang langsung mengoperasikan sistem itu, bukan hanya dari manajer atau konsultan yang mendesainnya dari atas.
Dan kalau kamu adalah salah satu dari mereka, operator, teknisi, maintenance worker, yang punya pengetahuan lapangan yang solid: tulis. Dokumentasikan. Publikasikan. Pengetahuanmu berharga. Tapi hanya kalau ada jejaknya.
Kembali ke Yang Mendasar
Infrastruktur yang berfungsi adalah prasyarat untuk semua hal lain yang kita anggap penting.
Semua inovasi digital itu berjalan di atas kabel fisik, di dalam gedung yang dijaga oleh orang yang tidak pernah di-mention di konferensi tech. Semua supply chain berjalan karena ada orang yang memastikan sistem pompa di pabrik tidak breakdown di saat kritis. Semua kenyamanan urban kita, air bersih, listrik, sanitasi, bergantung pada jaringan orang yang kerjaannya tidak pernah terlihat kecuali ketika rusak.
Ini bukan argumen untuk meromantisasi pekerjaan fisik. Mereka tidak butuh romantisasi. Mereka butuh pengakuan yang jujur dan proporsional terhadap nilai yang mereka berikan.
Jadi ini adalah kalimat yang aku mau tulis dengan jelas:
Kalian penting. Jauh lebih penting dari yang pernah disebutkan di media manapun. Dan ketidakhadiran nama kalian di headline bukan cerminan dari nilai kerja kalian. Itu adalah cerminan dari kebutaan sistemik kita terhadap hal-hal yang paling mendasar.
Terima kasih sudah kerja. Meski ga ada yang bilang.