Dibuat Pakai Tangan, Dijual Pakai Algoritma
· 8 min read
Ada momen di 2018 yang masih aku ingat dengan jelas. Aku duduk di depan laptop, melihat dashboard Tokopedia, dan menyadari bahwa toko yang sama, produk yang sama, foto yang sama, deskripsi yang sama, tiba-tiba dapat sepuluh kali lebih sedikit views dari bulan sebelumnya. Tidak ada perubahan dari sisi aku. Yang berubah adalah algoritmanya. Dan aku tidak tahu kenapa. Tidak ada penjelasan, tidak ada pemberitahuan.
Itulah saat aku mulai menulis buku ini.
Kaskus, 2011
Hibrkraft mulai bukan dari rencana bisnis. Mulai dari satu jurnal kulit yang aku buat untuk diri sendiri di 2010. Tidak ada yang menjual notebook dengan kualitas yang aku mau di harga yang masuk akal. Kulit asli, kertas bagus, penjilidan yang tahan. Aku buat satu. Orang-orang minta dibuatkan. Jadilah bisnis.
Platform pertama itu Kaskus. Forum. Tempat orang Indonesia belanja dan jual beli sebelum marketplace modern ada. Kaskus punya ekosistem yang aneh tapi jujur. Reputasimu dibangun dari rekam jejak thread, testimoni pembeli, konsistensi. Kalau kamu sering menipu, komunitas tahu. Kalau kamu jual produk bagus, orang bilang. Visibility datang dari kualitas interaksi, bukan dari uang yang kamu bayar ke platform.
Ini model yang aku mengerti. Ini model yang bekerja untuk kerajinan tangan.
Kemudian datang marketplace.
Logika Marketplace
Tokopedia, Shopee, Lazada. Mereka menawarkan sesuatu yang kelihatannya bagus: akses ke jutaan pembeli, sistem pembayaran yang aman, logistik yang terkelola. Dan memang itu yang mereka berikan, setidaknya di awal.
Permasalahannya adalah model bisnis mereka bukan membantu penjual menjual produk. Model bisnis mereka adalah menjual akses ke penjual kepada pembeli, dan menjual akses ke pembeli kepada penjual yang mau bayar lebih. Platform marketplace adalah pasar dua sisi yang keuntungannya datang dari mempertahankan ketegangan antara kedua belah pihak.
Di 2012–2015, ini masih bisa dinegosiasikan. Organic reach masih ada. Produk yang punya foto bagus dan deskripsi lengkap bisa muncul tanpa harus keluar uang untuk iklan. Aku bisa membangun toko Hibrkraft dengan modal kerja, bukan modal iklan.
Sekitar 2016–2017, sesuatu bergeser. Platform mulai memonetisasi visibility secara lebih agresif. Fitur "TopAds" di Tokopedia. Flash sale yang membutuhkan diskon besar. Program "gratis ongkir" yang subsidinya dibagi antara seller dan platform dengan formula yang tidak pernah benar-benar transparan. Untuk tetap terlihat, kamu harus bayar. Dan semakin banyak yang bayar, semakin mahal biayanya untuk semua.
Ketika Kamu Tidak Bisa Keluar
Ada satu fase yang jarang dibahas dalam diskusi tentang marketplace: ketika kamu sudah terlalu dalam untuk mudah keluar.
Ini bukan soal kontrak atau kewajiban legal. Ini soal sunk cost yang tersebar di banyak tempat: foto produk yang dioptimasi untuk tampilan marketplace, deskripsi yang ditulis sesuai format platform, rating toko yang dibangun selama bertahun-tahun, dan yang paling penting, kebiasaan pembeli yang sudah terbentuk untuk mencarimu di sana.
Ketika visibility organik mulai jatuh di 2018, pilihan yang ada secara teori adalah: bayar untuk iklan agar tetap terlihat, atau pindah ke channel distribusi lain. Tapi "pindah ke channel lain" tidak semudah kedengarannya. Pembeli yang sudah terbiasa mencarimu di Tokopedia tidak otomatis mengikutimu ke website sendiri atau Instagram. Kamu harus rebuild awareness dari nol di tempat baru, sambil masih menanggung biaya operasional dari kapasitas produksi yang sudah berkembang.
Ini adalah jebakan yang desainnya mungkin tidak disengaja, tapi efeknya sama: semakin lama kamu di platform, semakin sulit untuk meninggalkan platform tanpa biaya yang signifikan.
Margin yang Terkikis
Aku tidak ingin bicara soal angka yang spesifik. Angka berubah terus dan akan usang sebelum kamu selesai membaca ini. Tapi strukturnya konsisten:
Komisi platform: 1–5% tergantung kategori. Fee pembayaran: 1–2%. Biaya promosi untuk tetap terlihat: variabel, tapi kalau tidak keluar uang, visibility jatuh. Subsidi ongkir yang kadang ditanggung seller. Diskon paksa di event sale yang datangnya setiap bulan sekarang.
Tambahkan semua itu, dan margin produk handmade, yang sudah tipis karena biaya tenaga kerja tinggi, menjadi semakin tipis. Produk massal yang dibuat di pabrik dengan volume besar masih bisa untung di model ini karena margin mereka dimulai dari tempat yang berbeda. Produk kerajinan tangan tidak punya ruang yang sama.
Pada puncaknya, Hibrkraft punya 25 staf. Aku tahu biaya per jurnal. Aku tahu apa yang harus aku jual untuk menutupi overhead. Dan aku tahu bahwa model marketplace, kalau diikuti sepenuhnya, tidak selaras dengan model bisnis kerajinan tangan yang berkelanjutan.
Ada hal lain yang lebih halus: ketika kamu terus menekan harga untuk bersaing di marketplace, kamu akhirnya menekan standar produk juga. Bukan karena niat buruk, tapi karena setiap rupiah yang bisa dihemat dari material atau proses adalah rupiah yang memperpanjang waktu bertahan di model yang semakin tidak menguntungkan. Itu adalah spiral yang tidak ada ujung baiknya untuk produk kerajinan tangan.
Middleman Baru
Di Jakarta lama ada pasar grosir. Tanah Abang, Cipulir. Di sana ada middleman fisik: pedagang yang membeli dari produsen dan menjual ke pengecer, atau langsung ke pembeli. Sistem ini punya masalahnya sendiri. Margin diambil, harga dikontrol, akses ke pembeli terbatas.
Tapi middleman fisik punya satu keunggulan: kamu bisa lihat mereka, bicara dengan mereka, negosiasi dengan mereka. Kalau harga tidak masuk akal, kamu bisa pergi ke middleman lain. Struktur kompetisinya minimal tapi nyata.
Marketplace adalah middleman baru, dengan satu perbedaan kritis: mereka jauh lebih opaque. Algoritma yang menentukan visibility kamu adalah kotak hitam. Kebijakan berubah tanpa pemberitahuan yang jelas. Kalkulasi biaya tersembunyi dalam berbagai lapisan program yang saling tumpang tindih. Dan karena semua pesaingmu juga ada di platform yang sama, "pergi ke middleman lain" tidak semudah dulu.
Ini bukan argumen bahwa marketplace itu jahat. Mereka memecahkan masalah nyata dan menghubungkan jutaan penjual dengan pembeli yang tidak akan mereka jangkau sendiri. Argumennya lebih sederhana: kalau kamu menggantungkan seluruh bisnis pada platform yang kamu tidak kontrol, kamu sedang membangun di atas tanah yang bisa bergerak kapan saja.
Jalan Keluar: Klien Institusional
Di sekitar 2021, Hibrkraft mendapat kontrak pertama dengan klien institusional. KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi, butuh pasokan jurnal kulit untuk kebutuhan kantor mereka. Kemudian datang EFEO, École française d'Extrême-Orient, lembaga riset Prancis dengan kantor di Jakarta, yang butuh layanan konservasi buku arsip.
Ini berbeda dari semua yang pernah aku kerjakan sebelumnya di marketplace.
Tidak ada algoritma yang menentukan apakah proposal aku muncul di halaman pertama pencarian mereka. Tidak ada flash sale yang memaksaku diskon 30% untuk tetap relevan. Tidak ada komisi platform yang memotong margin sebelum aku sempat hitung. Hubungan ini dibangun dari reputasi, kapasitas yang bisa dibuktikan, dan kualitas kerja yang konsisten.
Aku tidak bilang jalur ini mudah. Akuisisi klien institusional membutuhkan waktu lebih lama, proposal lebih formal, standar kualitas yang lebih ketat. KPK minta konsistensi batch. Empat puluh jurnal harus identik, bukan "kurang lebih sama." EFEO minta dokumentasi yang belum pernah aku buat sebelumnya.
Tapi setelah kontrak berjalan, relasi itu stabil. Tidak ada yang bisa mengubah algoritmanya dan tiba-tiba kamu tidak kelihatan lagi.
Yang Berubah dan Yang Tidak
Empat belas tahun membuat jurnal kulit, aku bisa bilang dengan jelas: kerajinannya tidak banyak berubah. Teknik penjilidan yang aku pelajari di 2010 masih relevan. Kulit yang bagus masih terasa seperti kulit yang bagus. Jahitan yang kencang masih lebih tahan dari jahitan yang longgar.
Yang berubah adalah ekosistem distribusinya. Dan perubahan itu dalam, bukan kosmetik.
Ketika aku mulai, penjual yang punya produk bagus punya keunggulan struktural. Kualitas bisa diverifikasi oleh komunitas. Reputasi dibangun secara kumulatif dan sulit dicuri. Platform awal seperti Kaskus memberi sinyal ke semua pihak: seller ini konsisten, produknya sesuai deskripsi.
Marketplace modern membalik sebagian dari itu. Sinyal yang paling kuat sekarang bukan reputasi kumulatif. Yang paling kuat adalah kemampuan untuk membeli visibility di saat yang tepat. Ini menguntungkan seller dengan modal besar, produk yang bisa di-race to the bottom harganya, dan tim yang bisa mengoptimalkan ads secara penuh waktu.
Produk handmade dengan margin tipis dan seller individual tidak punya keunggulan komparatif dalam model itu.
Apa yang Tidak Diajarkan oleh Kursus Bisnis Online
Aku sudah membaca banyak konten tentang "cara sukses jualan di marketplace." Semuanya punya satu kelemahan yang sama: mereka ditulis dari perspektif orang yang profitnya datang dari mengajarkan orang lain cara jualan di marketplace, bukan dari pengalaman langsung mengelola bisnis kerajinan di marketplace selama satu dekade lebih.
Tidak ada yang membicarakan biaya psikologis dari model ini: energi yang dihabiskan untuk memantau dashboard, merespons perubahan algoritma, mengikuti program promosi yang berubah terus, dan mengelola ekspektasi customer yang sudah terbiasa dengan harga diskon event sale. Ini bukan keluhan. Ini adalah biaya operasional nyata yang jarang masuk ke dalam kalkulasi "apakah bisnis ini menguntungkan."
Tidak ada juga yang membicarakan apa yang terjadi ketika kamu membandingkan dua seller: yang satu punya produk mediocre tapi tim ads yang baik, yang lain punya produk luar biasa tapi tidak punya budget untuk iklan. Di Kaskus 2011, yang kedua menang. Di marketplace 2023, lebih sering yang pertama.
Itu bukan kiamat bagi bisnis kerajinan. Tapi itu adalah informasi yang harus dimengerti sebelum kamu memutuskan seberapa besar taruhan yang kamu pasang di model tersebut.
Kenapa Aku Menulis Ini
Buku Dibuat Pakai Tangan, Dijual Pakai Algoritma bukan panduan teknis cara jualan di marketplace. Ada banyak panduan itu, ditulis oleh orang yang lebih update soal fitur terbaru platform dibanding aku.
Ini lebih ke argumen: bahwa maker, pengrajin, artisan, produsen skala kecil dengan produk berkualitas, perlu memahami sistem distribusi yang mereka masuki sebelum mereka bergantung padanya sepenuhnya. Bahwa ada alternatif ke model marketplace-first yang layak dipertimbangkan. Bahwa hubungan langsung dengan klien, institusional, korporat, komunitas, bisa lebih berkelanjutan daripada mengejar traffic dari platform.
Dan bahwa memahami perbedaan antara middleman lama dan middleman baru adalah prasyarat untuk membuat keputusan yang tepat.
Aku tidak menyesal masuk ke marketplace. Itu keputusan yang tepat di waktunya dan memberi Hibrkraft akses ke pembeli yang tidak bisa aku jangkau dengan cara lain. Yang aku sesali adalah tidak lebih cepat memahami batas dari model itu, dan tidak lebih cepat membangun jalur distribusi alternatif sebelum terlalu bergantung.
Kalau kamu sedang di posisi yang aku hadapi di 2011, produk bagus, modal terbatas, akses ke marketplace yang mudah, buku ini ditulis untuk kamu. Bukan untuk menghentikanmu masuk ke marketplace. Tapi untuk memastikan kamu masuk dengan mata terbuka.